Great Place To Work®
Selama 12 bulan terakhir, Great Place To Work mensurvei 74.140 karyawan di seluruh Indonesia. Jawaban mereka mewakili suara 179.248 pekerja secara nasional, menjadikannya salah satu survei karyawan terbesar di negara ini. Di pasar yang dibentuk oleh pertumbuhan pesat, angkatan kerja yang muda, dan ekspektasi yang terus naik, suara-suara itulah yang menggambarkan seperti apa dunia kerja di Indonesia hari ini. Inilah business as usual yang baru.
Dalam studi ini, Best Workplaces adalah perusahaan-perusahaan yang masuk daftar Indonesia Best Workplaces, berdasarkan bagaimana karyawan merasakan kepercayaan, keadilan, dan kepemimpinan. Di organisasi-organisasi ini, 89,1% karyawan mengatakan mereka secara umum mempercayai tempat kerjanya, dibandingkan 71,4% di perusahaan Indonesia pada umumnya. Kesenjangan itu membentuk keseharian di tempat kerja: apakah orang berani bersuara, percaya pada manajernya, dan merasa pekerjaannya berarti.
Hanya 35% karyawan di perusahaan Indonesia pada umumnya yang mengatakan mereka “sangat percaya” pada pimpinannya. Di Best Workplaces, angkanya hampir dua kali lipat. 85,2% karyawan di sana mengatakan manajemen menepati janjinya, dibandingkan 56,6% di perusahaan pada umumnya. Perbedaan itulah yang menentukan apakah orang tetap berkomitmen saat keadaan sulit, atau diam-diam mulai mencari peluang di tempat lain.
Dua dari pernyataan dengan skor terendah di Indonesia menyangkut keadilan. Hanya 72,1% karyawan di perusahaan pada umumnya yang setuju bahwa manajer tidak pilih kasih, dan hanya 74,7% yang percaya promosi diberikan kepada mereka yang layak. Di angkatan kerja yang 64% respondennya berusia 34 tahun ke bawah, rasa ketidakadilan sejak awal karier itu mendorong orang-orang ambisius membangun masa depannya di tempat lain.
Hanya 35% karyawan di perusahaan Indonesia pada umumnya yang mengatakan mereka punya kesempatan berarti untuk berinovasi, sementara di tempat kerja yang berinvestasi pada kepercayaan, 55% mengatakan hal yang sama. Selisih 20 poin itu menyangkut apakah orang percaya idenya akan ditindaklanjuti. Ketika percaya, organisasi beradaptasi lebih cepat. Ketika tidak, pemikiran terbaik tak pernah keluar dari ruang rapat.
“
Inilah momennya Indonesia. Angkatan kerja di sini ambisius dan semakin terlibat dengan masa depannya. Kepercayaan diri terhadap pekerjaan termasuk yang terkuat di kawasan ini, dan karyawan tahu nilai dirinya. Tempat kerja yang masuk daftar tahun ini adalah mereka yang sudah beroperasi dengan kesadaran bahwa kepercayaan telah menjadi mata uang utama kepemimpinan.”
Evelyn Kwek
Managing Director,
Great Place To Work® ASEAN & ANZ
Data Indonesia Best Workplaces menunjukkan bahwa keadilan, kepemimpinan yang kredibel, rasa hormat, dan hubungan tim yang kuat berfungsi sebagai infrastruktur budaya yang memungkinkan kinerja, retensi, dan advokasi. Skor di setiap dimensi menceritakan hal yang konsisten: kepercayaan tumbuh berlipat ketika dibangun dengan sengaja, dan cepat terkikis ketika tidak.
Di perusahaan Indonesia pada umumnya, hanya 57,3% karyawan yang percaya mereka akan didengar secara adil jika diperlakukan tidak adil. Di Best Workplaces, angkanya 85,6%. Kesenjangan 28,3 poin itu termasuk yang paling tajam di seluruh dataset. Ini menunjukkan sesuatu yang penting: di sebagian besar tempat kerja Indonesia, jaring pengaman yang dibutuhkan orang untuk berani mengambil risiko, bersuara, dan tetap terlibat memang belum ada.
Manajemen menepati janjinya di 85,2% Best Workplaces, dibandingkan hanya 56,6% di perusahaan pada umumnya. Itu selisih 28,6 poin dalam hal apakah karyawan mempercayai apa yang disampaikan tim pimpinannya. Pemimpin yang menepati janji membangun budaya di mana orang berkomitmen. Pemimpin yang tidak, membangun budaya di mana orang ragu melangkah, kehilangan semangat, dan akhirnya pindah ke tempat yang bisa mereka percaya.
89,4% karyawan Best Workplaces mengatakan mereka bisa menjadi diri sendiri di tempat kerja. Di perusahaan Indonesia pada umumnya, angka itu turun ke 67,4%. Ketika lebih dari satu dari tiga karyawan merasa perlu mengubah dirinya agar diterima, organisasi kehilangan sesuatu yang sulit diukur: kontribusi penuh dari orang-orang yang energinya habis untuk mengelola citra diri, bukan untuk memberikan karya terbaiknya.
Di Best Workplaces di Indonesia, 87,9% karyawan mengatakan ingin bekerja di sana untuk waktu yang lama, dibandingkan 69,5% di perusahaan pada umumnya. Di angkatan kerja yang 27% respondennya baru bekerja kurang dari dua tahun di perusahaan saat ini, kesenjangan itu sangat berarti. Organisasi yang mampu mempertahankan orangnya bukan hanya menghemat biaya rekrutmen, mereka juga membangun pengetahuan institusional yang tidak bisa dibeli pesaing.
Indonesia Best Workplaces secara sengaja membangun budaya yang membuat orang ingin membelanya. 91,3% karyawan di organisasi-organisasi ini mengatakan mereka akan sangat merekomendasikan perusahaannya kepada teman dan keluarga sebagai tempat kerja yang hebat, dibandingkan 64,7% di tempat kerja Indonesia pada umumnya. 93,7% karyawan Best Workplaces mengatakan mereka bangga menceritakan tempat kerjanya kepada orang lain, sementara di perusahaan pada umumnya angkanya 76,7%.
Kinerja menunjukkan arah yang sama. 92% karyawan di Indonesia Best Workplaces mengatakan orang-orang bersedia memberikan upaya ekstra untuk menyelesaikan pekerjaan, dibandingkan 75% di perusahaan pada umumnya. Dengan porsi yang sama, 92% mengatakan organisasinya beradaptasi dengan cepat saat perubahan dibutuhkan, dibandingkan 75% di tempat lain. Di pasar tenaga kerja di mana teknologi, ekspektasi klien, dan model bisnis terus berubah, daya tanggap menjadi bagian dari cara kerja itu sendiri.
Indonesia Best Workplaces memperlakukan kepercayaan, kebanggaan, dan kontribusi sebagai bagian dari sistem operasi perusahaan. Mereka berinvestasi pada budaya di mana karyawan bangga dengan tempat kerjanya, percaya diri merekomendasikan perusahaannya, dan paham betul dampak dari pekerjaannya. Dalam sepuluh tahun ke depan, organisasi yang menanggapi sinyal-sinyal ini dengan serius akan menjadi tempat para pekerja Indonesia yang ambisius memutuskan membangun kariernya.